EkonomiNasional

Pengembangan Bank Wakaf Mikro di Banyuwangi

Banyuwangi, BNNews – Di Indonesia sekarang telah hadir Bank Wakaf Mikro guna membantu masyarakat kecil yang belum tersentuh lembaga keuangan formal (perbankan) khususnya mereka yang berada di pedesaan maupun pelosok.

Pengertian Bank Wakaf Mikro (BWM) ialah lembaga keuangan mikro syariah yang didirikan atas izin Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan bertujuan memberikan pinjaman modal usaha kepada masyarakat kecil. Pendirian BWM pun dilakukan melalui pesantren-pesantren yang telah mendapatkan izin dari OJK.

Keputusan pemerintah dalam mendirikan BWM tidak hanya memberikan mereka modal pinjaman tanpa bunga tinggi, tapi juga wawasan tambahan dalam membangun usaha dan mengelola keuangan dan terhindar dari ancaman lintah darat atau renternir yang merugikan. Ekonomi masyarakat pedesaan bisa dibangun dan pengurangan kemiskinan bisa lebih cepat teratasi salah satunya dengan memberikan akses bank dan produk keuangan yang ramah dengan sosialisasi yang tepat.

Hal senada juga diungkapkan oleh Direktur Lembaga Keuangan Mikro Suparlan dalam media gathering pengembangan BWM, di Dialoog Hotel, Banyuwangi, Sabtu (27/07/2019).

“BWM secara sederhana untuk mengurangi rentenir. Makanya di sini pembiayaannya pembiayaan kecil. Jadi tujuannya adalah untuk memberantas rentenir. Kalau rentenir bisa diganti dengan suku bunga yang memadai, harapannya masyarakat bisa sejahtera,” papar Suparlan.

Selain itu, BWM ini dalam pembiayaannya tak memberi bunga layaknya bank umum. Masyarakat hanya dikenakan administrasi dalam setiap angsurannya setara 3%.

“BWM ini menyediakan akses keuangan masyarakat yang mudah atau tanpa agunan dan murah, yaitu setara 3%. Ini dikhususkan bagi usaha kecil, mikro, bahkan ultra mikro,” kata Suparlan.

BWM sendiri dibiayai oleh donatur berupa wakaf, infaq, sedekah dan sebagainya yang dikelola oleh Lembaga Amil Zakat Nasional. Kemudian, BWM ini juga dapat dibiayai oleh CSR (Corporate Social Responsibility) dari perusahaan yang memenuhi syarat keuangan syariah.

Setiap BWM akan diberikan dana Rp 4,2 miliar dengan pembagian Rp 1,2 miliar untuk pembiayaan usaha mikro, dan Rp 3 miliar untuk deposito BWM.

“Setiap BWM disediakan Rp 4,2 miliar. Yang Rp 1,2 miliar untuk pembiayaan, yang Rp 3 miliar untuk deposito bank, di-lock,” pungkasnya.

Bank Wakaf Mikro pertama kali hadir pada Oktober 2017. Selang 2 bulan, pada Desember 2017 Bank Wakaf berhasil mengumpulkan 827 nasabah. Pertumbuhannya kian pesat setelah diresmikan pada awal tahun 2018. Hal ini terlihat pada Maret 2018, sebanyak 20 bank wakaf berhasil mendapatkan izin usaha dari OJK dan berhasil memiliki 3.876 nasabah. Terbaru, data OJK per akhir Desember 2018, sudah ada 41 bank wakaf mikro yang berizin dari OJK dan mencatatkan sebanyak 8.000 lebih nasabah.

Hingga Juni 2019 ini, sudah ada 51 BWM yang tersebar di seluruh Indonesia dan sebagian besar ada di pulau Jawa. Nantinya, target pertumbuhan BWM hingga akhir 2019 yaitu 100 BWM.

Latar belakang didirikannya bank wakaf mikro ialah menjawab keluhan masyarakat di pedesaan yang sulit mendapatkan akses layanan bank, padahal mereka juga perlu pinjaman tanpa jaminan dan mudah di akses untuk modal usaha, investasi dan lain sebagainya.

(HWP)

Comment here

tiga + 1 =